Mengejar Angin
Manusia memiliki tendensi membandingkan diri dengan orang lain. Apalagi dengan maraknya fenomena media sosial. Media sosial sebagai piranti yang tidak bisa dilepas dari hidup kita mulai dari beranjak dari peristirahatan hingga merebahkan badan. Sampai-sampai badan kita sendiri tidak dapat istirahat cukup karena rasa tidak puas kita mengkonsumsi media sosial.
Tendensi ini sebenarnya sudah terbentuk sejak kecil, bahkan dari lingkup keluarga inti. Misal, seorang anak yang dibandingkan dengan anak yang lain. Tidak jarang karena membandingkan ini, dari anak akan terbentuk rasa tidak nyaman akan diri.
Rasa tidak nyaman ini kadang menjadi "kenikmatan" tersendiri bagi mereka yang mempunyai agenda atau "niat baik" bagi orang yang bersangkutan. Dari sini, orang akan menggantungkan keputusan kepada hal yang membuat mereka merasa lebih baik, siapa lagi kalau bukan ke orang yang mempunya agenda tersebut?
Ketidaknyamanan membuat orang tidak puas akan apa yang ada dalam hidup mereka. Mereka pastinya akan mengejar angin dan berusaha menangkapnya, tak peduli kalau kaki mereka mulai memanas jika angin tersebut mempunyai "kenikmatan" jika didapatkan.
Disinilah terkadang media sosial membuat agenda agar orang tidak pernah merasa puas. Lagipula, media sosial menjadi ladang bercocok tanam beberapa orang yang mempunyai agenda untuk dijalankan. Media yang menawarkan kenikmatan asalkan orang mau mengejar angin. Saat mengejar angin, ada baiknya mempublikasi itu ke sosial media.
Kenapa?
Manusia sebagai makhluk sosial juga tidak ingin merasa kesepian, makanya mereka suka mengajak orang lain untuk terjun dalam hal yang sama.
Namun apa semua "kenikmatan" yang dijanjikan oleh media atau siapapun itu benar-benar nikmat? Atau dibalik itu semua, ada duri-duri kecil yang terselip? Saking kecilnya mungkin kita baru menyadari saat memeriksa ke dalam diri kita, sudah banyak duri yang menancap dan badan terluka.
Yang kita butuhkan sebenarnya untuk bertanya ke dalam diri kita sendiri.
Apa yang kita butuhkan?
Apa semua yang diinginkan itu karena hasrat diri yang seperti angin?
Bagaimana caranya mengenali kebutuhan dan keinginan?
Bagaimana caranya mengenali suara sendiri?
Pertanyaan itu mungkin sedang berkelit dalam pikiran kita. Kebiasaan membandingkan diri karena sudah terjun dalam lingkaran "kenikmatan" yang diatur orang dengan agenda tersebut. Memutus lingkaran setan mungkin tidak mudah dalam sekali langkah, namun hal ini bisa dilakukan.
Cobalah mempertanyakan hal-hal tersebut setiap hari, niscaya lingkaran tersebut lepas perlahan.
Komentar
Posting Komentar