Energi Hidup

Konon hidup itu adalah perputaran energi,

Hukum Kekekalan Energi (Hukum I Termodinamika) berbunyi:
Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan (konversi energi).


Terkadang kita terpikir, apa itu makna kehidupan kalau kita harus makan, minum, dan istirahat dalam bentuk apapun untuk bertahan hidup. Ada suatu titik jenuh, dimana tubuh kita sudah break-down/burn-out hingga pikiran mempertahankan energi tetap sama itu sia-sia.

Buat apa? Toh juga nanti kita hilang? Terbakar habis dengan matahari?

Jika anda sudah berada di titik itu, kemungkinan itu sinyal dari badan kita yang terlalu waspada akan keadaan sekitar, hingga kita memperhitungkan ketahanan tubuh kita sampai dimana.

Atau hanya rasa penasaran dalam diri saja, seperti obsesi para raja di legenda untuk hidup abadi tanpa bersusah payah mempertahankan energi dalam diri.

Terkadang, ini juga dibilang penyakit/sindrom burn-out.

Apapun itu, pemikiran ini akan menjurus ke tahap menyakiti diri sendiri. Tanda di dalam pikiran kita sudah sakit akan segala tatanan dalam hidup di dunia ini yang tak jemu-jemu menyiksa kita dengan hukum alam.

Hukum alam tidak mempunyai definisi pasti dari ilmuan, hanya sekumpulan sistem yang diperhatikan dan dikompilasi menjadi ilmu pengetahuan alam oleh kita. Hukum dimana kita akan diperlakukan sesuai konsekuensi yang kita jalani. Bisa saja hukuman menjadi setimpal karena kita mengabaikan beberapa aspek, entah apapun itu.

Namun, alam sendiri memberikan kesempatan kita untuk hidup dengan selayaknya. Jika kita menanam hal yang baik, kita akan menuai hal yang baik juga.

Di saat kita menunggu masa panen, adakalanya kita bisa menikmati apa yang terjadi di sekitar kita. Energi yang diberikan alam secara cuma-cuma, karena tidak ada yang bisa memusnahkannya.

Lalu apa yang membuat kita menjadi sakit akan tatanan yang diberikan hidup?
  1. Ketika kita merasa tidak mempunyai kendali atas hidup kita.
  2. Energi negatif yang berputar disekitar kita sudah masuk ke dalam tubuh kita, baik secara fisik maupun emosional. 
  3. Hidup yang menuntut kita mengorbankan energi dalam tubuh lebih banyak dari yang kita punya. 
  4. Perfeksionisme, semua harus terlihat sempurna, yang terkadang menguras energi kita sendiri.
  5. Ketika kita memutuskan rantai energi positif dari orang lain karena tidak ingin membuat mereka suntuk dengan energi negatif kita. 
Semua itu dikarenakan kita menghitung semua hal yang sudah kita lewati (energi positif dan negatif yang lewat dari hidup kita) daripada merasakan energi apa yang kita rasakan saat ini. 
  1. Rasa manis yang tersisa di mulut setelah mengunyah nasi.
  2. Aroma badan yang segar setelah mandi. 
  3. Sensasi sentuhan jari di keyboard. 
  4. Suara keheningan dalam cangkir. 
  5. Melihat titik kecil yang mengambang di mata. (floaters)
Terkadang hal remeh itu kita lupakan karena energi yang dipancarkan tidak sebesar pengorbanan yang kita berikan kepada hidup.

Namun merasakan hal yang kita anggap remeh, sebenarnya adalah salah satu metode untuk menyembuhkan diri dari burn-out. Yaitu evaluasi diri terhadap fenomena dalam kehidupan.

Merasakan hal tersebut dan memenuhi energi apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh badan sudah tertanam dalam pikiran kita sejak awal mula peradaban. Ketika badan kita mulai meronta, sebenarnya itu peringatan bahwa energi dalam tubuh kita mulai berkurang atau hanya penanda bahwa kita perlu memenuhi standar energi minimum untuk hidup.

Apakah mungkin energi dalam badan kita bisa ke angka 0 walaupun kita masih hidup?

Tidak,

Bahkan ketika kita meninggal, mineral dan gas dalam tubuh kita menjadi energi baru untuk makhluk hidup sekitar.
Jadi pada akhirnya, meskipun badan kita terbakar habis akan pemikiran kita tentang hukum alam, alam juga akan memberikan api kehidupan kembali ke kita. Hingga pada masa dimana energi itu musnah untuk selamanya.

*Honorable mention for my FB colleague who gave this prompt. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini